PKGA LPPM UNSOED Perkuat Literasi Kesehatan Lansia melalui Kader Posyandu di Karangwangkal

Purwokerto – Pusat Kesetaraan Gender dan Anak (PKGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Literasi Kesehatan Lansia melalui Peran Kader Posyandu dalam Pencegahan Disabilitas Akibat Penyakit Degeneratif.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, bertempat di Balai Desa Karangwangkal.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader Posyandu dalam mengenali risiko penyakit degeneratif, memahami langkah-langkah pencegahannya, serta meningkatkan kemampuan dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada lansia dan masyarakat. Kader memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi penghubung antara warga dengan informasi maupun layanan kesehatan.

Mencegah Penyakit Degeneratif Sejak Dini

Materi kegiatan menekankan pentingnya pencegahan penyakit degeneratif karena penyakit tersebut dapat berkembang secara bertahap dan berpotensi menurunkan kualitas hidup apabila tidak dikendalikan. Beberapa penyakit yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini meliputi diabetes melitus, hipertensi, penyakit ginjal kronik, dan penyakit jantung koroner.

Melalui materi edukasi, kader diperkenalkan pada berbagai gejala dan faktor risiko penyakit degeneratif sekaligus langkah-langkah pencegahannya. Untuk diabetes melitus, misalnya, pencegahan diarahkan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala, peningkatan aktivitas fisik, penerapan pola makan seimbang, menghindari paparan asap rokok, istirahat yang cukup, serta pengelolaan stres.

Sementara itu, pencegahan hipertensi dilakukan antara lain melalui pembatasan konsumsi garam, aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, pemeriksaan tekanan darah secara teratur, pengelolaan stres, serta berhenti merokok.

Materi juga memberikan perhatian pada kesehatan ginjal dan jantung. Pengendalian gula darah dan tekanan darah, konsumsi air putih yang cukup, pengurangan makanan olahan dan garam, serta menghindari penggunaan obat atau jamu tanpa anjuran medis menjadi bagian dari edukasi pencegahan penyakit ginjal kronik. Adapun pencegahan penyakit jantung koroner mencakup pengurangan makanan tinggi lemak jenuh, peningkatan aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, pengendalian tekanan darah, gula darah dan kolesterol, serta berhenti merokok.

Dari Literasi Kesehatan menuju Pencegahan Disabilitas

Penguatan literasi kesehatan dalam kegiatan ini tidak berhenti pada pengenalan penyakit, tetapi diarahkan pada pemahaman mengenai konsekuensi penyakit degeneratif yang tidak terkendali. Materi menjelaskan bahwa penyakit degeneratif dapat berkembang menjadi berbagai bentuk gangguan fungsi dan disabilitas, antara lain gangguan penglihatan, kelumpuhan, luka kaki yang sulit sembuh hingga amputasi, gangguan fungsi ginjal atau jantung, serta gangguan bicara dan daya pikir akibat stroke.

Secara lebih khusus, materi juga membahas sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat penyakit degeneratif, seperti retinopati diabetik, nefropati diabetik, neuropati diabetik, stroke, hingga gagal ginjal. Pembahasan tersebut menjadi penting agar kader tidak hanya memahami penyakit dari sisi gejala, tetapi juga mampu mengenali tanda-tanda yang membutuhkan perhatian dan tindak lanjut.

Dalam konteks tersebut, peran kader ditempatkan sebagai salah satu mata rantai penting dalam pencegahan disabilitas. Materi menekankan empat peran utama kader, yakni edukasi, deteksi dini, pendampingan kepatuhan, dan rujukan cepat. Kader diharapkan mampu menyampaikan informasi kesehatan dengan bahasa sederhana, mendorong masyarakat mengikuti pemeriksaan kesehatan secara rutin, mengingatkan kepatuhan terhadap pengobatan dan jadwal kontrol, serta mengenali tanda bahaya untuk segera dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Melibatkan Kader sebagai Penggerak Kesehatan Masyarakat

Kegiatan menghadirkan tiga pemateri dari bidang keilmuan yang saling melengkapi, yaitu Nur Intan Kartika Sari, S.Tr.Keb., M.P.H., Katri Andini Surijati, S.Si.T., M.Gizi, dan RR. Diyah Woro Dwi Lestari, S.Psi., M.Si. Ketiganya memberikan penguatan materi yang diarahkan pada peningkatan pemahaman kader mengenai kesehatan lansia, penyakit degeneratif, pencegahan disabilitas, serta penguatan peran kader dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

Kegiatan tersebut menyasar terutama kader Posyandu Karangwangkal, dengan lansia dan/atau keluarga lansia sebagai kelompok sasaran program, serta melibatkan unsur pemerintah dan kelembagaan desa.

Melalui kegiatan ini, PKGA LPPM UNSOED mendorong penguatan kapasitas masyarakat agar kesehatan lansia tidak hanya menjadi tanggung jawab layanan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari kepedulian dan tindakan bersama di tingkat komunitas. Penguatan kader diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi kesehatan, memperkuat deteksi dini, dan mendukung praktik pencegahan yang lebih baik di masyarakat.

Pada akhirnya, literasi kesehatan menjadi modal penting untuk membangun lansia yang lebih sehat, mandiri, dan terlindungi dari risiko disabilitas akibat penyakit degeneratif. Upaya tersebut sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kader, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hidup lansia.

PKGA LPPM UNSOED — Bersama Masyarakat, Mendorong Kehidupan Lansia yang Sehat dan Mandiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *